Hibah Buku Rumah Baca Sinar Mentari untuk Pojok Baca Talago Kurambik

Ketika Buku Menjadi Jembatan Silaturahmi: Menyemai Harapan dari Pojok Baca Talago Kurambik

PASAMAN, 19 September 2026 — Tidak semua perjalanan harus berakhir di tempat yang jauh untuk menjadi yang berarti. Ada perjalanan yang cukup membawa seseorang menuju sebuah sudut kampung, mempertemukannya dengan orang-orang yang memiliki semangat yang sama, lalu meninggalkan sesuatu yang jauh lebih panjang daripada sebuah pertemuan: pengetahuan dan harapan.

Suasana itulah yang terasa di Pojok Baca Talago Kurambik, Kampung Napolen Baru, Jorong Makmur, Nagari Padang Gelugur, Kecamatan Padang Gelugur, Kabupaten Pasaman, Sumatera Barat.

Pada hari tersebut, Mulyadi Putra, S.Sy, pemilik Taman Bacaan Masyarakat Mentari sekaligus Sanggar Rumah Mentari, berkunjung ke Pojok Baca Talago Kurambik. Kedatangannya tidak sekadar menjadi kunjungan biasa. Ia datang membawa semangat silaturahmi sekaligus menghibahkan buku-buku bacaan sebagai bagian dari upaya memperkaya bahan literasi yang tersedia di Pojok Baca Talago Kurambik.
Kedatangan sang penulis buku Minangkabau: Masyarakat yang Terbuka dan Tantangannya, disambut hangat oleh Deni Syaputra, Ketua Pojok Baca Talago Kurambik, dan Muhammad Taufik, selaku sekretaris. Hadir pula para anggota Pojok Baca Talago Kurambik, yakni M. Khadafi, M. Alief Aiman, Farel Al-Fareza, Sandi Pangestu, dan Franditia Wirnando, beserta anggota Perguruan Pencak Silat Talago Kurambik.

Pertemuan berlangsung dalam suasana penuh keakraban. Tidak ada sekat yang terasa di antara mereka. Percakapan mengalir, gagasan saling bertemu, dan semangat untuk merawat budaya membaca menjadi benang merah dalam perjumpaan itu.

Di balik kunjungannya, juga tersimpan satu hal yang barangkali tampak sederhana, tetapi sesungguhnya memiliki makna yang panjang: sebuah buku yang berpindah tangan.

Buku-buku yang dihibahkan bukan sekadar tambahan bagi rak bacaan. Ia adalah jendela-jendela kecil yang memungkinkan seseorang melihat dunia dari tempatnya sendiri. Di dalamnya terdapat pengetahuan yang dapat dipelajari, pengalaman yang dapat direnungkan, cerita yang dapat menghidupkan imajinasi, serta gagasan yang mungkin suatu hari tumbuh menjadi tulisan.

Bagi Pojok Baca Talago Kurambik, hibah tersebut menjadi bagian penting dalam perjalanan menumbuhkan budaya literasi di tengah masyarakat. Sebab sebuah pojok baca tidak hanya dibangun dengan rak dan buku, tetapi juga dengan orang-orang yang percaya bahwa membaca mampu membuka jalan menuju cakrawala yang lebih luas.

Dalam kesempatan kali ini, ia juga menyampaikan harapan bagi perjalanan Pojok Baca Talago Kurambik. Ia berharap, dalam rentang lima hingga sepuluh tahun mendatang, dari tempat sederhana itu akan lahir penulis-penulis muda.
Harapan tersebut terdengar seperti sebuah pesan yang dititipkan kepada waktu. Mengapa? Karena melalui literasi ini sambung Pangeran Padang Sikaduduak (nama penanya), juga berharap untuk: 'pergunakanlah waktu dengan sebaik-baiknya dalam menapak perjalanan hidup ini, sebelum waktu yang akan menentukan jalan mana yang harus ditempuh,' tuturnya.   

Mungkin hari ini mereka hanya membaca beberapa halaman. Mungkin hari ini mereka baru belajar menyusun kalimat. Namun tidak ada yang tahu, dari halaman mana sebuah mimpi akan menemukan bentuknya. Seorang penulis bisa saja lahir dari ruang yang sederhana, dari kebiasaan membaca yang terus dipelihara, dari rasa ingin tahu yang tidak pernah padam.

Karenanya, perjalanan literasi tidak selamanya membutuhkan langkah yang besar. Terkadang ia dimulai dari hal-hal yang sangat sederhana: seseorang datang bersilaturahmi, seseorang menyerahkan buku, seseorang membacanya, lalu seseorang lainnya mulai berani menulis.

Begitulah sebuah gerakan tumbuh.

Pojok Baca Talago Kurambik mungkin berdiri di tengah kesederhanaan sebuah kampung. Namun dari tempat sederhana itu, mimpi tidak pernah memiliki batas. Rak buku yang tidak seberapa dapat menjadi tempat bersemayamnya gagasan-gagasan besar. Lembaran yang dibaca dalam kesunyian dapat melahirkan suara yang kelak didengar banyak orang.

Silaturahmi antara Taman Bacaan Mentari, Sanggar Taman Mentari, dan Pojok Baca Talago Kurambik menjadi bagian dari ikhtiar bersama untuk menjaga agar api literasi tetap menyala. Sebab literasi bukan hanya tentang seberapa banyak buku yang dimiliki, tetapi tentang seberapa jauh pengetahuan mampu mengubah cara seseorang memandang kehidupan.

Dan pada akhirnya, 19 September 2026 bukan sekadar tanggal yang berlalu di kalender. Ia menjadi satu halaman yang tersimpan dalam perjalanan Pojok Baca Talago Kurambik—halaman tentang persaudaraan, buku, pengetahuan, dan harapan.

Sebuah harapan bahwa dari kampung ini, dari rak-rak buku yang sederhana, akan tumbuh generasi yang tidak hanya gemar membaca, tetapi juga berani berpikir, berani menulis, dan berani meninggalkan jejak melalui kata-kata.

Sebab buku yang diberikan hari ini mungkin akan dibaca oleh seseorang yang belum kita kenal. Dan seseorang itu, barangkali, kelak menjadi penulis yang menuliskan kisah tentang zamannya.

Dari sebuah silaturahmi, lahirlah sebuah jembatan. Dari sebuah hibah buku, tumbuh sebuah harapan. Dan dari halaman-halaman yang dibaca hari ini, semoga kelak lahir tulisan-tulisan yang mampu menerangi masa depan.

---

Jurnalis, Talago Kurambik
M. Khadafi
Anggota Pojok Baca Talago Kurambik

Comments

Popular posts from this blog

Menjaga Warisan - Membentuk Karakter

PPS TALAGO KURAMBIK PAGEL